You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Simoketawang
Simoketawang

Kec. Wonoayu, Kab. Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

Dari Kopi Kelengkeng Menuju Prestasi Nasional

Operator 11 Februari 2026 Dibaca 12 Kali
Dari Kopi Kelengkeng Menuju Prestasi Nasional

Kopi Koleng Mengantarkan Desa Simoketawang ke Panggung Nasional

Prosesnya yang sederhana dan dikerjakan oleh warga lokal sendiri menjadi salah satu kekuatan Desa Simoketawang menembus persaingan ribuan peserta Festival YouTuber Desa.

M. Saiful Rohman, Sidoarjo

Waktu sore sekitar pukul setengah lima, hujan lebat baru saja berhenti mengguyur Sidoarjo. Tampak Ketua Bumdes Simoketawang, Kecamatan Wonoayu, Suyantok memetik buah kelengkeng di kebun belakang kantor Desa Simoketawang. Dari kebun inilah cerita produksi video kopi koleng bermula. 

Suyantok yang juga Sekretaris Desa Simoketawang itu telah merawat kelengkeng sejak 2018 sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Tidak hanya dipanen sebagai buah segar, kelengkeng diolah menjadi berbagai produk turunan. Salah satunya kopi koleng, minuman dari biji kelengkeng yang selama ini kerap hanya dianggap sampah.

Proses pembuatan kopi koleng tidak singkat. Untuk menghasilkan sekitar 2,5 kilogram biji, diperlukan kurang lebih 40 kilogram buah kelengkeng. Alur panjang itulah yang kemudian dijadikan tulang punggung cerita video.

Ketika festival YouTuber Desa dibuka, Suyantok mengaku tidak merancang konsep baru. Dia memanfaatkan produk yang sudah ada di Simoketawang. Video yang dibuat difokuskan pada proses, bukan kemasan promosi.

Proses pengambilan gambar hanya dilakukan dalam satu hari. Pengerjaannya melibatkan anak-anak desa yang memang memiliki kemampuan menggarap proyek visual. "Ada empat siswa SMK asli Desa Simoketawang kami ajak mengerjakan film kopi koleng," katanya saat ditemui. Mereka mengerjakan seluruh proses produksi tanpa meminta imbalan apapun. "Ada rasa bangga dari anak-anak untuk membawa nama kampungnya ke panggung nasional," imbuhnya. 

Film dirancang dengan tetap mempertahankan konsep tradisional kampung. Dapur sederhana, kuali lama dan figur-figur sepuh ditampilkan untuk memperlihatkan kesan resep turun-temurun. Semua yang tampil di layar adalah warga desa sendiri dibantu ibu-ibu PKK. 

Proses penyuntingan berlangsung sekitar satu bulan dengan berbagai keterbatasan. "Yang saya syukuri, ala-alat produksi seperti kamera, drone dan lain-lain Pemdes sudah punya," ujarnya. Dia juga mengaku bangga dengan anak-anak Desa Simoketawang yang mampu membantu kampung halamannya berprestasi di tingkat nasional. 

Dari ribuan peserta, Desa Simoketawang berhasil lolos seleksi tahap awal bersama 174 desa. Seleksinya berlapis hingga empat besar nasional. Desa Simoketawang kemudian dinobatkan sebagai pendatang baru terbaik. "Yang menjadi nilai plus itu konsistensi kami dalam merawat kebun kelengkeng, jauh sebelum program ketahanan pangan dicanangkan pemerintah pusat," terangnya. Terdapat 500 lebih pohon kelengkeng juga berdiri dan dirawat oleh warga di rumahnya masing-masing. 

Bagi Suyantok, prestasi tersebut menunjukkan bahwa desa yang jauh dari pusat kota tetap mampu bersaing di level nasional. Kuncinya ada pada konsistensi dalam merawat potensi lokal. Kopi koleng menjadi salah bukti nyata dari proses panjang yang dirawat secara konsisten. (ful)

Kopi Koleng Mengantarkan Desa Simoketawang ke Panggung Nasional

Prosesnya yang sederhana dan dikerjakan oleh warga lokal sendiri menjadi salah satu kekuatan Desa Simoketawang menembus persaingan ribuan peserta Festival YouTuber Desa.

M. Saiful Rohman, Sidoarjo

Waktu sore sekitar pukul setengah lima, hujan lebat baru saja berhenti mengguyur Sidoarjo. Tampak Ketua Bumdes Simoketawang, Kecamatan Wonoayu, Suyantok memetik buah kelengkeng di kebun belakang kantor Desa Simoketawang. Dari kebun inilah cerita produksi video kopi koleng bermula. 

Suyantok yang juga Sekretaris Desa Simoketawang itu telah merawat kelengkeng sejak 2018 sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Tidak hanya dipanen sebagai buah segar, kelengkeng diolah menjadi berbagai produk turunan. Salah satunya kopi koleng, minuman dari biji kelengkeng yang selama ini kerap hanya dianggap sampah.

Proses pembuatan kopi koleng tidak singkat. Untuk menghasilkan sekitar 2,5 kilogram biji, diperlukan kurang lebih 40 kilogram buah kelengkeng. Alur panjang itulah yang kemudian dijadikan tulang punggung cerita video.

Ketika festival YouTuber Desa dibuka, Suyantok mengaku tidak merancang konsep baru. Dia memanfaatkan produk yang sudah ada di Simoketawang. Video yang dibuat difokuskan pada proses, bukan kemasan promosi.

Proses pengambilan gambar hanya dilakukan dalam satu hari. Pengerjaannya melibatkan anak-anak desa yang memang memiliki kemampuan menggarap proyek visual. "Ada empat siswa SMK asli Desa Simoketawang kami ajak mengerjakan film kopi koleng," katanya saat ditemui. Mereka mengerjakan seluruh proses produksi tanpa meminta imbalan apapun. "Ada rasa bangga dari anak-anak untuk membawa nama kampungnya ke panggung nasional," imbuhnya. 

Film dirancang dengan tetap mempertahankan konsep tradisional kampung. Dapur sederhana, kuali lama dan figur-figur sepuh ditampilkan untuk memperlihatkan kesan resep turun-temurun. Semua yang tampil di layar adalah warga desa sendiri dibantu ibu-ibu PKK. 

Proses penyuntingan berlangsung sekitar satu bulan dengan berbagai keterbatasan. "Yang saya syukuri, ala-alat produksi seperti kamera, drone dan lain-lain Pemdes sudah punya," ujarnya. Dia juga mengaku bangga dengan anak-anak Desa Simoketawang yang mampu membantu kampung halamannya berprestasi di tingkat nasional. 

Dari ribuan peserta, Desa Simoketawang berhasil lolos seleksi tahap awal bersama 174 desa. Seleksinya berlapis hingga empat besar nasional. Desa Simoketawang kemudian dinobatkan sebagai pendatang baru terbaik. "Yang menjadi nilai plus itu konsistensi kami dalam merawat kebun kelengkeng, jauh sebelum program ketahanan pangan dicanangkan pemerintah pusat," terangnya. Terdapat 500 lebih pohon kelengkeng juga berdiri dan dirawat oleh warga di rumahnya masing-masing. 

Bagi Suyantok, prestasi tersebut menunjukkan bahwa desa yang jauh dari pusat kota tetap mampu bersaing di level nasional. Kuncinya ada pada konsistensi dalam merawat potensi lokal. Kopi koleng menjadi salah bukti nyata dari proses panjang yang dirawat secara konsisten. (ful)

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan